Kenapa Prabowo Begitu Sulit Naikin Gaji Guru, Begitu Mudah untuk TNI?

Kategori Berita

Kenapa Prabowo Begitu Sulit Naikin Gaji Guru, Begitu Mudah untuk TNI?

Thursday, July 30, 2026


Hari ini kita menyaksikan, betapa mudahnya Prabowo menaikkan gaji TNI. Tapi, begitu banyak alasan bila mau menaikkan gaji guru dan dosen. Pernah muncul ucapan beliau, "Uangnya enggak ada."


Kalimat itu begitu sakral sampai layak dicetak di kaus, baliho, dan spanduk peringatan hari guru nasional.


Tapi keajaiban terjadi pada 30 Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto resmi menaikkan tunjangan kinerja prajurit TNI dan pegawai Kementerian Pertahanan. Indeks tukin melompat dari 70 persen menjadi 90 persen melalui Perpres Nomor 42 Tahun 2026. Jenderal bintang empat kini menerima tukin Rp48,6 juta per bulan. Pangkat terendah mendapat Rp2,5 juta.


Cepat sekali. Secepat mie instan matang. Secepat polisi membawa brankas di Cipete. Secepat politisi menghapus status lama setelah viral. Rakyat pun menggaruk kepala sampai hampir tembus tempurung.


Bukankah sebelumnya uang tidak ada? Bukankah negara sedang kesulitan? Bukankah anggaran sedang seret?


Ternyata uang itu ada. Hanya saja keberadaannya mirip hantu. Tidak terlihat saat guru datang. Muncul ketika tentara lewat.


Prabowo menjelaskan, kenaikan gaji dan tunjangan aparat penting untuk memutus rantai pemerasan terhadap rakyat. Logikanya, pegawai yang sejahtera akan lebih sulit tergoda melakukan penyimpangan.


Masuk akal.


Tapi di sinilah guru dan dosen mulai menatap langit-langit sambil berpikir keras. Kalau gaji yang baik bisa mengurangi penyimpangan, bukankah guru juga manusia? Guru juga pegawai negeri. Guru juga menghadapi harga beras yang naiknya lebih semangat dari kenaikan penghasilan mereka.


Anehnya, setiap kali bicara guru, pemerintah seperti sedang mengikuti lomba mencari alasan terbanyak tingkat nasional.


Ada kebocoran anggaran. Ada pencurian kekayaan negara. Ada under-invoicing. Ada kerugian Rp2.500 triliun per tahun. Ada potensi kerugian Rp15.000 triliun selama 34 tahun.


Angkanya begitu besar sampai kalkulator saintifik pun minta pensiun dini.


Namun semakin besar angka disebut, semakin besar pula pertanyaan rakyat. Kalau kebocoran mencapai Rp2.500 triliun per tahun, kenapa tukin TNI bisa naik mulus? Apakah kebocoran itu punya kecerdasan buatan? Apakah dia hanya menyerang anggaran guru? Apakah uang guru disedot makhluk gaib ekonomi, sementara anggaran lain dijaga pasukan naga dari Planet Fiskal?


Lalu muncul pertanyaan paling nakal yang beredar dari warung kopi sampai grup WA ormas, sebenarnya Prabowo ada dendam apa dengan guru?


Tentu tidak ada bukti. Ini hanya satire rakyat yang mulai kehabisan stok kesabaran.


Mungkin karena Prabowo pernah menjadi jenderal sehingga lebih memahami dunia militer. Sementara guru hanya bertugas mencetak dokter, hakim, ekonom, polisi, tentara, menteri, gubernur, dan presiden. Tidak penting-penting amat, mungkin begitu logika satir bekerja.


Yang paling lucu sekaligus menyedihkan adalah ketika Presiden mengatakan guru, dokter, perawat, tentara, dan polisi semuanya butuh gaji yang baik.


Rakyat langsung setuju.


Masalahnya, ketika pintu kas dibuka, yang masuk lewat jalur VIP adalah tentara. Guru dan dosen masih duduk di ruang tunggu sambil memegang nomor antrean yang warnanya sudah pudar dimakan usia.


Maka wahai para guru dan dosen, bersabarlah. Mungkin bulan depan uangnya ada. Mungkin tahun depan. Mungkin setelah Rp15.000 triliun yang hilang selama 34 tahun ditemukan di balik lemari negara.


Sebab di negeri ini, jika yang meminta kenaikan gaji adalah guru, uang sering menghilang. Tetapi jika yang meminta bukan guru, uang kadang muncul dengan kecepatan yang membuat pesulap pun minder. Abrakadabra. Tukin naik.


Foto Ai hanya ilistrasi


Penulis: Rosadi Jamani